Welcome to My Blog
Selamat datang di website Agus Dian Ristanto
Featured Posts
Negeri 5 Menara Resume
Novel yang penuh dengan vitamin Emosional dan Spiritual bagi jiwa, Pak Ary Ginanjar menyebutnya “ESQ”.
Berikut beberapa kutipan Novel yang akan menjadi kabel setrum bagi jiwa kita yang terkadang “drop”atau sedang “Ogah-ogahan” dalam menapaki jejak-jejak kehidupan sehingga jejak yang kita tinggalkan akan selalu bermakna.
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri Orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
JIka matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan
Imam Syafi’i
(Opening)
“…Aku berdiri sambil mengulet untuk mengusir kantuk. Setelah membasahi muka dan mengambil wudl, kantukku lumayan reda. Setiap aku merasa harus menyerah dan tidur, aku melecut diriku,”ayo satu halaman lagi, satu baris lagi, satu kata lagi…” AKhirnya dnegan perjuangan, akhirnya aku bisa menamatkan bacaanku. Dengan ega aku angkat buku itu dan aku benamkan wajahku sambil berdoa, Ya Allah telah aku sempurnakan semua usahaku dan doaku kepadaMu. Sekarang semuanya aku serahkan kepadamu, AKu tawakal dan ikhlas. Mudahkanujianku besok. Amin”
Dengan doa itu aku merasa tenang dan tenteram.
(Sahirul Lail, halaman 199-200)
“Banyak keajaiban terjadi di dunia karena orang telah memasang tekad dan niat, dan selalu mencoba merealisasikanya. Dan aku percaya dengan man jadda wajadda itu…”
(Princess if Madani, Halaman 233)
“…“Kami keluarga kelas sekian”. Kami berlomba-lomba membuat yang terbagus.
Seperti biasa, Ustad Salman ingin berbeda. Menjelang foto bersama besok, dia mengumpulkan kami.
“Menurut saya, untuk bisa maju dan berprestasi, kita tidak boleh biasa-biasa saja. Harus mencari yang lebih baik dan berbeda. Setuju?”
“…”
(Parlez vous Francais,Halaman 266)
“…Felicitation, kalan telah memperlihatkan apa yang disebut imalu fauka ma amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat orang lain. …”
(Parlez vous Francais,Halaman 267)
Sudah dua minggu sejak aku bertemu Sarah. Tapi rasanya baru kemarin. Pengalaman yang selalu membawa senyum ke wajahku. Pengalaman yang mengajarkan bahwa kalau aku mau bercita-cita, selalu ada jalan. Bahkan keajaiban-keajaiban bisa diciptakan dengan usaha-usaha tak kunjung menyerah.
(Si Pungguk dan Sang Bulan, Halaman 257)
“…..Baru kali ini aku melihat dia puasa senyum lebih dari 5 menit. Iseng, kami mencoba melambaikan tangan ke arah said yang sedang sibuk bertugas. Hanya dibalas dengan anggukan kecil saja. Lucu sekali melihat Said mempertahankan wibawa dengan berjuang menutupi senyum lebarnya.”
(Lembaga Sensor,halaman 301)
“…Banyak yang tidak percaya, tergelak, atau hanya menyumbang senyum, menganggap ide ini sebuah mimpi yang keterlaluan.
Tapi mereka maju terus. Ya, itu yang mereka lakukan dengan cara yang paling manual. Masing-masing membagi tugas. Raja menuliskan entry Inggris dan Baso untuk Arab. Selama setahun,, siang malam mereka mengerjakan pemilihan kata yang benar-benar cocok untuk Pelajar. Aku ingat beberapa kali bangun tengah malam untuk Tahajud. Setiap bangun, aku menyaksikan di tengah kesunyian dan gelapnya malam, Baso dan Raja duduk bersila ditemani sebuah lampu teplok yang apinya melenggak-lenggok….”
“… Mereka terus menulis dan menulis tidak kenal lelah. Pagi-pagi aku melihat jempol, telunjuk dan jari tengah mereka bengkak-bengkak dan membiru karena dipakai memegang pulpen tiada henti…”
(Lembaga Sensor,Halaman 307)
Selain itu juga pembelajaran untuk mengambil segi positif dari setiap “ketidakenakan” yang ditimpakan kepada kita
“…Aku sekilas melihat sampulnya :”Catatan Perilaku angkatan 1988”. Buku ini kami sebut kitab “Dosa dan Pahala” kami selama berada di PM. Bagai punya melaikat Rakib dan Atit, semua pelanggaran dan prestasi setiap Murid tercatat rapi di buku ini.” (Kereta angin kuning, Halaman 315)
“…Sejak itu, aku belajar hebat untuk bisa juga dipilih. Setiap kesempatan latihan pidato dan diskusi berbahasa Inggris, aku membuat persiapan maksimal. Rupanya usahaku tidak sia-sia, hari ini usahaku dibayar kontan….”
“…Selama 3 hari 3 malam, ditemani Sahibul menara dan Raja sebagai Konsultan, aku berlatih dan berlatih, di sebelah kali. AKu berteriak tanpa lelah kepada Air, bamboo, semak belukar, melatih lidahku supaya fleksibel untuk membawakan pidatoku yang berjudul “When East Greest West”….”
(Kereta Angin kuning, Halaman 317)
“Bismillah, ya Tuhan, sudah aku kerahkan segala usaha, sekarang aku serahkan penampilanku kepadaMu dengan segala ikhlas,” gumamku.”
(Kereta Angin kuning, Halaman 318)
“Kejutan apa lagi Tad?” tanyaku. Kawan-kawan lain juga bertanya-tanya.
“Yang memperlihatkan kesigapan dan penghargaan. Kita bikin kilas 70 instant!’”
“Maksudnya Tad?”
”Kita berburu dengan waktu. Kita bikin Presiden bisa menerima dan membaca liputan kunjungan dan fotonya, bahkan sebelum dia turun panggung.”
Wajah kami melongo…”
“… Can it be done? Sure. ini agak mission-impossible. Tapi dengan man jadda wajada ya akhi. Insya Allah kita bisa.”
Kami manggut-manggut.
“Ini rencana saya. Taufan bertugas mengambil foto Presiden begitu menginjakkan kaki di PM. Lalu langsung ngebut naik motor ke Ponorogo untuk mencuci hasilnyta. ALif membuat liputan sampa pidato sambutan pertama dan langsung mengetik laporanya. Dalam setengah jam laporan dan foto sudah harus disetor kesini….””
(Kilas 70, Halaman 332-333)
“…Iya, rugi kalau stress, mending kita bekerja keras. Wali kelasku pernah memberi motivasi yang sangat mengena di hati. Katanya kalau ingin sukses dan berprestasi dalam segala bidang apa pun, maka lakuykanlah dengan prinsip “Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar. Bahwa aku akan berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan orang lain…”
“….Lihatlah,berapa perbedaan antara juara satu lari 200 meter dunia? CUma O,oo sekia detik disbanding sainganya. Berapa beda jarak juara renang dengan sainganya? Mungkin hannya satu ruas jari!. Untuk juara hanya butuh sedikit lebih baik dari orang kebanyakan! Sudah lebih terasa kekuatanya? ”
Kepala kami mengangguk-angguk…”
“…Di atas semua itu. Ketika semua usaha telah kita smepurnakan, kita berdo’a dengan khusyuk kepada Allah. Dan hanya setelah Usaha dan doa inilah kita bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Allah,” tandas Said.
Pidato Said ini menyalakan semangat kami. Rasanya beban menghadapai ujian menjadi Ringan, pikiran jadi lebih jernih…”
(Kamp Konsentrasi, Halaman 383-384)
Sedangkan ini adalah seluruh rangkaian judul bab cerita
Pesan dari masa silam
Keputusan Setengah Hati
Rapat Tikus
Kampung di atas kabut
Man jadda wajada
Sang Renaissance Man
Shopping Day
Sergapan pertama Tyson
Agen 007
Sarung dan Kurban
Sahibul Menara
Surat dari Seberang Pulau
Sepuluh Pentung
Maa Haaza
Thank God It’s Friday
Keajaiban itu datang pagi-pagi
Abu Nawas dan Amak
Bung Karno
Maradona Hapal Quran
Berlian dari Belgia
Umat Icuk
Festival AKbar
Sahirul Lail
Orator dan Terminator
Princess sod Madani
Pendekar pembela Sapi
Nama yang bersenandung
Si Pungguk dan Sang Bulan
Parlez Vouz Francais?
Rendang Kapau
PIala di depan Puskesmas
A Date on the Altlantic
Puncak Rabtai Makanan
Lembaga Sensor
Sekam itu bernama ITB
Kereta Angin KUning
Kilas 70
It’s Show Time
Rahasia BAso
Sepasang jubah surgawi
Perang Batin
Kamp Konsentrasi
Beratus ribu jabat Erat
idget-c5.slide.com/p1/3530822107895764165/ms_t063_v000_s0un_f00/images/xslide1.gif)




