Welcome to My Blog
Selamat datang di website Agus Dian Ristanto
Featured Posts
20 Juli 2009 VS 10 Nopember 1945
Artikel ini ditulis 2 hari pasca ledakan bom megakuningan
Ledakan bom kembali menggunjang ibu kota, ledakan terjadi di dua tempat yang berbeda di Hotel Rits Carlton dan Hotel J.W. Marriot dengan selang waktu tidak lebih dari 5
menit, hotel bintang l
ima memang masih menjadi sasaran favorit para teroris, peristiwa yang terjadi pada jumat pagi kemarin menjadi pukulan telak bagi Pemerintah dan bangsa Indonesia umumnya setelah beberapa kurun waktu terakhir suasana keamanan sudah mulai stabil dan kondusif.
Dalam peritiwa memilukan ini, setidaknya kita dapat menangkap dua aspek pokok yang bisa dikaitkan, yang pertama guncangan bom terjadi dalam masa Pesta Demokrasi Indonesia dimana baru beberapa hari saja Pemilu Presiden selesai dilaksanakan, Para pelaku ledakan menginginkan ketidakstabilan keamanan yang tentunya akan berimbas pada ketidakstabilan politik dan perekonomian pasca Pilpres.
Aspek yang kedua, tempat sasaran bom, yaitu Hotel Rits Carlton dan J.W. Marriot merupakan tempat menginap para Pemain Manchester United dalam tour D’Asianya yang sekiranya akan bermain dengan Timnas PSSI tanggal 20 Juli nanti, ada pihak-pihak yang tidak menginginkan dilangsungkanya pertandingan tersebut, ketika mendengar berita kemarin saya malah teringat dengan kegiatan anak-anak saya di PMR sekitar 1 minggu yang lalu.
Saat itu saya mengadakan lomba debat antar siswa di lingkungan Sekolah tempat saya bekerja, kebetulan dalam kegiatan tersebut saya yang bertindak sebagai Moderator. Sebuah Pertanyaan “nyeleneh” saya lemparkan pada mereka di babak Grand Final, dalam babak tersebut ada tiga Tim yang bertarung, dari tiga tim tersebut ada satu tim yang saya berikan pertanyaan kemudian dua tim yang lain wajib memberikan kontra atas argument yang diberikan tim pertama.
Pertanyaanya cukup sederhana, “Bagaimana tanggapan saudara dengan diadakanya pertandingan sepakbola MU VS Indonesia All Star tanggal 20 Juli 2009?”
Regu pertama menyampaikan kesepakatanya atas acara tesebut dengan menyampaikan argument-argumen yang beranekaragam, mulai menghibur masyarakat Indonesia sehabis ketegangan Pesta Demokrasi, Meningkatkan sektor pariwisata Indonesia, kemudian memenuhi keinginan Pecinta bola yang tergila-gila dengan Premiere League, hingga meningkatkan skill pemain Timnas PSSI.
Saya memberikan kesempatan 2 regu lainnya untuk menyampaikan kontra atas argument regu pertama, namun sedikit disayangkan mereka tidak memberikan sanggahan dan malah mendukung argument regu pertama, untuk menghindari garing-nya suasana saya mencoba untuk melempar kepada flor dengan harapan ada yang memberikan kontra atas argument tadi. Akan tetapi kebanyakan mereka tetap sependapat.
Karena satupun dari audience tak ada yang menyatakan ke-kontra-anya, mau tidak mau saya sendiri yang memberikan kontra atas argument regu pertama karena memang sebelumnya saya sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan ini untuk bisa diperdebatkan, saya hanya melmparkan satu pertanyaan balik kepada mereka, “Kira-kira dalam pertandingan ini, yang diharuskan membayar dalam jumlah Milyar itu dari pihak MU atau pihak kita? kemudian berapa harga tiket untuk setiap penonton Indonesia??”
Suasana menjadi hening, Anak-anak mulai terdiam dan berkutak-kutik mengulang konsep pemikiranya, sebelum babak final ini dimulai sengaja saya “genjot” semangat Patriotisme mereka dengan memutarkan Audio Pidato Bung Tomo ketika hendak melawan Serangan tentara Inggris 64 Tahun silam, Pidato beliau begitu menggolora hingga anak-anak menitikkan air mata. Pidato yang menjawab atas Ultimatum tentara Inggris (dalam Pidato Bung Tomo memang disebutkan “Tentara Inggris”) yang hendak meluluhlantakan kota Surabaya dari darat, laut, dan udara.
Masih dalam suasana keheningan berfikir, dari mereka kemudian ada yang nyeletuk, “ternyata kisa masih terjajah oleh bangsa lain”, pemikiran ini kemudian menjadi reaksi inti atom /nuclear yang mengalami ledakan berantai hingga membuat semua yang ada di forum seolah-olah menyangkal kedatangan Orang-orang Eropa. Pemikiran mereka meluas dengan merelasikan antara kedatangan Pasukan Inggris 10 Nopember 1945 silam dengan kedatangan tanggal 20 Juli 2009 mendatang.
Saat ini terkadang memang juga sempat terlintas di benak, apa mungkin pemikiran Teroris itu mirip dengan Pemikiran Saya?? Hahaha Bercanda JJ malah berabe nanti urusanya…
Saya membuat pertanyaan pada debat tersebut bukan berarti saya menggiring anak-anak untuk menolak pertandingan MU vs Indonesian Allstar, saya hanya mengajak anak-anak untuk berfikir kritis dan tidak melupakan sejarah bangsa.
Kembali pada pembahasan aspek yang kedua dari ledakan bom di megakuningan, Pelaku ingin menarik perhatian Dunia dengan melakukan eksekusi di tempat yang akan menjadi pesinggahan Tim Sepakbola terbaik Dunia saat ini, Secara kasat mata ledakan yang terjadi tidak sampai meruntuhkan bangunan gedung, penyidik juga menyimpulkan bahwa ledakan masih kategori low-explosive. Namun efek/dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini sangat dahsyat, jangkauanya mengalahkan misil Nuklir Taepodong-II milik Korea Utara, pemberitaan begitu menyebar cepat dan menjadi global issue. Pandangan Dunia terhadap Stabilitias Indonesia yang bisa dikatakan sudah mulai membaik dan kondusif harus kembali ke tingkat nol lagi yang tentunya akan sangat berpengaruh dengan pertumbuhan sector-sektor lain di negeri ini.
BERIKAN CAHAYA UNTUK HATI DARI GELAPNYA KEPENTINGAN YANG MERONGRONG
Saya menulis blog ini tepat Pkl. 18.18 WIB sambil menyaksikan siaran hasil Quick Count Pilpres di TV yang kesemuanya menunjukkan hasil yang sama, Pasangan Nomor urut 2 memimpin dengan perolehan sekitar 60% dari total suara, PILPRES-pun diprediksi/dipastikan hanya berlangsung 1 putaran.
Hasil Quick Count ini tidak terlalu mengejutkan mengingat beberapa kali hasil survey yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Dari siaran Televisi juga ditayangkan berbagai tanggapan masing-masing tim Sukses terkait dengan hasil Quick Count Lembaga Survey. Tanggapan yang disampaikan tentunya beragam, Tim Sukses yang Capresnya unggul mempercayai hasil survey dan mengapresiasikan Euforia kemenangan dengan bersorak-sorai bak memenangi lomba tarik tambang agustusan, Sebaliknya Tim Sukses yang tidak unggul, masih meragukan hasil survey dan repot mencari alasan sana-sini guna menggagalkan opini publik hasil Pilpres yang telah berkembang di masyarakat.
Sangat disayangkan memang ketika mendengar ada Politisi/Tim Sukses yang tidak sportif, ada beberapa dari mereka yang memberikan statement seperti ini, “yang perlu menjadi perhatian saat ini bukan pada hasil penghitungan, tapi pada kesiapan penyelenggaraan Pemilihan sebelum pelaksanaan, dalam hal ini DPT”. Statement semacam ini mengindikasikan ketidaksiapan Politisi/Tim Sukses menerima hasil Pilpres, kalau boleh ekstrim bisa dikatakan mereka hanya mencari kambing hitam belaka, hanya mementingkan kepentingan Individu/Golongan tanpa mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara.
Memang tidak dipungkiri bahwa kinerja KPU saat ini tidak terlalu memuaskan, namun bukan berarti hal ini bisa dijadikan alasan untuk menggagalkan Pilpres 2009. Sedangkan secara rasional, margin error kekisruhan DPT apabila dibagi secara proporsional tidak akan banyak mengubah hasil Penghitungan. Jadi apa yang diucapkan politisi-politisi itu hanya sebatas alasan-alasan saja untuk menghindari kekalahan.. Kita bisa menyaksikan apa yang disembunyikan oleh seseorang dari gelagat bicara dan mimik wajahnya ketika memberikan argumentasi.
Saya lebih menggarisbawahi pada mental politisi-politisi di tanah air yang kebanyakan sudah kehilangan rasa nasionalime dan jatidiri karena tertutup berbagai kepentingan yang begitu menggelapkan. Dimana mereka menempatkan Negara sebagai alat untuk memenuhi kepentingan Pribadi dan Golongan saja. Mata Pelajaran PPKn yang diajarkan di Sekolah semasa kecil mengalami evolusi ketika memasuki panggung politik dan akhirnya menjadi tidak berlaku/musnah. Saya tidak menunjuk mereka yang kalah atau yang memenangkan Pilpres nantinya.
Saat ini, Justru saya khawatir dengan oposisi yang akan terbentuk, oposisi akan menjadi penghalang program-program Pemerintah dan menjadi musuh Pemerintah, Oposisi seharusnya menjadi pemantau dan siap membantu ketika melihat ada celah kesalahan yang dilakukan oleh Pemerintah, Namun yang terjadi selama ini jauh berbeda, bisa dinilai bahwa Oposisi lebih banyak bertindak sebagai penghancur pemerintah untuk merebutkan kekuasaan kembali, hal ini terlihat dengan berbagai gempuran yang dilakukan, oposisi cenderung mencari-cari kelemahan/kekurangan pemerintah kemudian mempublikasikanya kepada masyarakat. Indonesia akan sulit maju selama ada musuh dalam tubuh sendiri.
Mental Pemerintahan yang barupun juga harus ada pembenahan, bagaimana untuk bisa konsisten menjaga amanah yang telah diembankan oleh rakyat, bukan menyalahgunakan wewenang dan jabatan, kemudian bekerja semaksimal mungkin untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, Pemerintahan yang baru harus bisa merangkul golongan diluar koalisi pemenangan Pilpres sehingga mau mendukung program-program Pemerintah dan bersama-sama membangun kehidupan politik yang kondusif. Prinsipnya, bisa menempatkan kepentingan Negara di atas kepentingan Pribadi/Golongan.
Semuanya berharap dengan dilaksanakannya Pesta Demokrasi lima tahunan yang menghabiskan dana tidak kurang dari 20 Triliun ini akan membawa Indonesia kearah pencapaian Tujuan bangsa yang lebih baik..
WISH GLORY OF
idget-c5.slide.com/p1/3530822107895764165/ms_t063_v000_s0un_f00/images/xslide1.gif)




