Saya menulis blog ini tepat Pkl. 18.18 WIB sambil menyaksikan siaran hasil Quick Count Pilpres di TV yang kesemuanya menunjukkan hasil yang sama, Pasangan Nomor urut 2 memimpin dengan perolehan sekitar 60% dari total suara, PILPRES-pun diprediksi/dipastikan hanya berlangsung 1 putaran.
Hasil Quick Count ini tidak terlalu mengejutkan mengingat beberapa kali hasil survey yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Dari siaran Televisi juga ditayangkan berbagai tanggapan masing-masing tim Sukses terkait dengan hasil Quick Count Lembaga Survey. Tanggapan yang disampaikan tentunya beragam, Tim Sukses yang Capresnya unggul mempercayai hasil survey dan mengapresiasikan Euforia kemenangan dengan bersorak-sorai bak memenangi lomba tarik tambang agustusan, Sebaliknya Tim Sukses yang tidak unggul, masih meragukan hasil survey dan repot mencari alasan sana-sini guna menggagalkan opini publik hasil Pilpres yang telah berkembang di masyarakat.
Sangat disayangkan memang ketika mendengar ada Politisi/Tim Sukses yang tidak sportif, ada beberapa dari mereka yang memberikan statement seperti ini, “yang perlu menjadi perhatian saat ini bukan pada hasil penghitungan, tapi pada kesiapan penyelenggaraan Pemilihan sebelum pelaksanaan, dalam hal ini DPT”. Statement semacam ini mengindikasikan ketidaksiapan Politisi/Tim Sukses menerima hasil Pilpres, kalau boleh ekstrim bisa dikatakan mereka hanya mencari kambing hitam belaka, hanya mementingkan kepentingan Individu/Golongan tanpa mengutamakan kepentingan bangsa dan Negara.
Memang tidak dipungkiri bahwa kinerja KPU saat ini tidak terlalu memuaskan, namun bukan berarti hal ini bisa dijadikan alasan untuk menggagalkan Pilpres 2009. Sedangkan secara rasional, margin error kekisruhan DPT apabila dibagi secara proporsional tidak akan banyak mengubah hasil Penghitungan. Jadi apa yang diucapkan politisi-politisi itu hanya sebatas alasan-alasan saja untuk menghindari kekalahan.. Kita bisa menyaksikan apa yang disembunyikan oleh seseorang dari gelagat bicara dan mimik wajahnya ketika memberikan argumentasi.
Saya lebih menggarisbawahi pada mental politisi-politisi di tanah air yang kebanyakan sudah kehilangan rasa nasionalime dan jatidiri karena tertutup berbagai kepentingan yang begitu menggelapkan. Dimana mereka menempatkan Negara sebagai alat untuk memenuhi kepentingan Pribadi dan Golongan saja. Mata Pelajaran PPKn yang diajarkan di Sekolah semasa kecil mengalami evolusi ketika memasuki panggung politik dan akhirnya menjadi tidak berlaku/musnah. Saya tidak menunjuk mereka yang kalah atau yang memenangkan Pilpres nantinya.
Saat ini, Justru saya khawatir dengan oposisi yang akan terbentuk, oposisi akan menjadi penghalang program-program Pemerintah dan menjadi musuh Pemerintah, Oposisi seharusnya menjadi pemantau dan siap membantu ketika melihat ada celah kesalahan yang dilakukan oleh Pemerintah, Namun yang terjadi selama ini jauh berbeda, bisa dinilai bahwa Oposisi lebih banyak bertindak sebagai penghancur pemerintah untuk merebutkan kekuasaan kembali, hal ini terlihat dengan berbagai gempuran yang dilakukan, oposisi cenderung mencari-cari kelemahan/kekurangan pemerintah kemudian mempublikasikanya kepada masyarakat. Indonesia akan sulit maju selama ada musuh dalam tubuh sendiri.
Mental Pemerintahan yang barupun juga harus ada pembenahan, bagaimana untuk bisa konsisten menjaga amanah yang telah diembankan oleh rakyat, bukan menyalahgunakan wewenang dan jabatan, kemudian bekerja semaksimal mungkin untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, Pemerintahan yang baru harus bisa merangkul golongan diluar koalisi pemenangan Pilpres sehingga mau mendukung program-program Pemerintah dan bersama-sama membangun kehidupan politik yang kondusif. Prinsipnya, bisa menempatkan kepentingan Negara di atas kepentingan Pribadi/Golongan.
Semuanya berharap dengan dilaksanakannya Pesta Demokrasi lima tahunan yang menghabiskan dana tidak kurang dari 20 Triliun ini akan membawa Indonesia kearah pencapaian Tujuan bangsa yang lebih baik..
WISH GLORY OF

0 pro