Artikel ini ditulis 2 hari pasca ledakan bom megakuningan
Ledakan bom kembali menggunjang ibu kota, ledakan terjadi di dua tempat yang berbeda di Hotel Rits Carlton dan Hotel J.W. Marriot dengan selang waktu tidak lebih dari 5
menit, hotel bintang l
ima memang masih menjadi sasaran favorit para teroris, peristiwa yang terjadi pada jumat pagi kemarin menjadi pukulan telak bagi Pemerintah dan bangsa Indonesia umumnya setelah beberapa kurun waktu terakhir suasana keamanan sudah mulai stabil dan kondusif.
Dalam peritiwa memilukan ini, setidaknya kita dapat menangkap dua aspek pokok yang bisa dikaitkan, yang pertama guncangan bom terjadi dalam masa Pesta Demokrasi Indonesia dimana baru beberapa hari saja Pemilu Presiden selesai dilaksanakan, Para pelaku ledakan menginginkan ketidakstabilan keamanan yang tentunya akan berimbas pada ketidakstabilan politik dan perekonomian pasca Pilpres.
Aspek yang kedua, tempat sasaran bom, yaitu Hotel Rits Carlton dan J.W. Marriot merupakan tempat menginap para Pemain Manchester United dalam tour D’Asianya yang sekiranya akan bermain dengan Timnas PSSI tanggal 20 Juli nanti, ada pihak-pihak yang tidak menginginkan dilangsungkanya pertandingan tersebut, ketika mendengar berita kemarin saya malah teringat dengan kegiatan anak-anak saya di PMR sekitar 1 minggu yang lalu.
Saat itu saya mengadakan lomba debat antar siswa di lingkungan Sekolah tempat saya bekerja, kebetulan dalam kegiatan tersebut saya yang bertindak sebagai Moderator. Sebuah Pertanyaan “nyeleneh” saya lemparkan pada mereka di babak Grand Final, dalam babak tersebut ada tiga Tim yang bertarung, dari tiga tim tersebut ada satu tim yang saya berikan pertanyaan kemudian dua tim yang lain wajib memberikan kontra atas argument yang diberikan tim pertama.
Pertanyaanya cukup sederhana, “Bagaimana tanggapan saudara dengan diadakanya pertandingan sepakbola MU VS Indonesia All Star tanggal 20 Juli 2009?”
Regu pertama menyampaikan kesepakatanya atas acara tesebut dengan menyampaikan argument-argumen yang beranekaragam, mulai menghibur masyarakat Indonesia sehabis ketegangan Pesta Demokrasi, Meningkatkan sektor pariwisata Indonesia, kemudian memenuhi keinginan Pecinta bola yang tergila-gila dengan Premiere League, hingga meningkatkan skill pemain Timnas PSSI.
Saya memberikan kesempatan 2 regu lainnya untuk menyampaikan kontra atas argument regu pertama, namun sedikit disayangkan mereka tidak memberikan sanggahan dan malah mendukung argument regu pertama, untuk menghindari garing-nya suasana saya mencoba untuk melempar kepada flor dengan harapan ada yang memberikan kontra atas argument tadi. Akan tetapi kebanyakan mereka tetap sependapat.
Karena satupun dari audience tak ada yang menyatakan ke-kontra-anya, mau tidak mau saya sendiri yang memberikan kontra atas argument regu pertama karena memang sebelumnya saya sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan ini untuk bisa diperdebatkan, saya hanya melmparkan satu pertanyaan balik kepada mereka, “Kira-kira dalam pertandingan ini, yang diharuskan membayar dalam jumlah Milyar itu dari pihak MU atau pihak kita? kemudian berapa harga tiket untuk setiap penonton Indonesia??”
Suasana menjadi hening, Anak-anak mulai terdiam dan berkutak-kutik mengulang konsep pemikiranya, sebelum babak final ini dimulai sengaja saya “genjot” semangat Patriotisme mereka dengan memutarkan Audio Pidato Bung Tomo ketika hendak melawan Serangan tentara Inggris 64 Tahun silam, Pidato beliau begitu menggolora hingga anak-anak menitikkan air mata. Pidato yang menjawab atas Ultimatum tentara Inggris (dalam Pidato Bung Tomo memang disebutkan “Tentara Inggris”) yang hendak meluluhlantakan kota Surabaya dari darat, laut, dan udara.
Masih dalam suasana keheningan berfikir, dari mereka kemudian ada yang nyeletuk, “ternyata kisa masih terjajah oleh bangsa lain”, pemikiran ini kemudian menjadi reaksi inti atom /nuclear yang mengalami ledakan berantai hingga membuat semua yang ada di forum seolah-olah menyangkal kedatangan Orang-orang Eropa. Pemikiran mereka meluas dengan merelasikan antara kedatangan Pasukan Inggris 10 Nopember 1945 silam dengan kedatangan tanggal 20 Juli 2009 mendatang.
Saat ini terkadang memang juga sempat terlintas di benak, apa mungkin pemikiran Teroris itu mirip dengan Pemikiran Saya?? Hahaha Bercanda JJ malah berabe nanti urusanya…
Saya membuat pertanyaan pada debat tersebut bukan berarti saya menggiring anak-anak untuk menolak pertandingan MU vs Indonesian Allstar, saya hanya mengajak anak-anak untuk berfikir kritis dan tidak melupakan sejarah bangsa.
Kembali pada pembahasan aspek yang kedua dari ledakan bom di megakuningan, Pelaku ingin menarik perhatian Dunia dengan melakukan eksekusi di tempat yang akan menjadi pesinggahan Tim Sepakbola terbaik Dunia saat ini, Secara kasat mata ledakan yang terjadi tidak sampai meruntuhkan bangunan gedung, penyidik juga menyimpulkan bahwa ledakan masih kategori low-explosive. Namun efek/dampak yang ditimbulkan dari peristiwa ini sangat dahsyat, jangkauanya mengalahkan misil Nuklir Taepodong-II milik Korea Utara, pemberitaan begitu menyebar cepat dan menjadi global issue. Pandangan Dunia terhadap Stabilitias Indonesia yang bisa dikatakan sudah mulai membaik dan kondusif harus kembali ke tingkat nol lagi yang tentunya akan sangat berpengaruh dengan pertumbuhan sector-sektor lain di negeri ini.

0 pro